PARAS LESTARI

Standard

-Untuk Mardotillah Akhyari
Ini malam birahi suci, seksiku
Kita rekat tubuh, ikat tali pada tiang cinta
Tabah pada gang sebelah rumah, kita berdiri
Susur jalan sampai kita temu lapang luas ruang
Sebab senja menunggu
birahi-birahi duh, haru

“Tapi kita tak akan berpisah, bukan?
pada jalan besar setelah gang, atau nanti malah sasar?”
“Kita ini cuma jejak-jejak kaki musafir
dan bau kecut pada sisa cinta
yang terpental hanya sesal.”

Ah, seksiku masih saja mematut rupa
“Ko belum cantik juga, ya?”
“Biarkan lentik alis itu berbaris!”
“Aku ingin membuat garis sedikit panjang sayang”

Malam makin naik
Mendaki gelap, senyap pada dinding rumah
Kita harus bergegas, nyalakan lampion dan memasangnya di halaman

“Apakah cahaya bintang juga hilang? Atau kunang-kunang malam ini tak datang?”
“Mereka sembunyi, ruang gelap sudah sesak oleh segala keinginan duniawi”
“Lantas bagaimana kita nanti?”
“Seksiku, kita akan jadi paras-paras lestari nanti.
Seperti kunang-kunang yang mengganti bintang, tabahlah mengingat wajah-wajah kekasih kita. Itu saja!”

Ibnu Zidan | WordPress

Kepala(nda)bleg

Image

Waduh, celaka!!
lagilagi keluh hari ini sama
dari kepala berat, sampai hujan yang lebat
entah siapa yang menaruh batu di kepalaku
sampai harus menerka menimang berapa berat kau buat!!

Kau
Ya, kau yang purapura beri kepalaku obat!
subsidi yang nantinya kepala tidak berat,
pew, pew, pew
dengarlah, alam dan suarasuara yang lapar
dari gerutu para ibu yang kehilangan airsusu
sampai siekor sapi yang kalikali bertanya
siapa!!!

“siapa yang sudah memotongku, siapa yang sudah menimbangnya, diakah itu yang dididik miring, pake kopyah miring?”

Oh, aku keliru menjawab ketika di tanya,
“Berapa airhujan yang sudah sampai kerumahmu.
Air yang menggenang di halaman rumahmu?”
Ternyata seharunya kujawab, di rumahmu sudah sedia tadah hujan

Ibnu Zidan |WordPress

Mu(asal)

Standard

Mataair akan terus tetap mengalir
Mengucuri jiwajiwa yang lahir
Susur rindu yang basah membujur
Menyala cinta pada mata yang terbakar

“Huluhulu mana yang akan kau ikut!!”

Tiap butir mataair beri cukup diwajah
Ya, aku berkeriapan mencari letak
Huluhulu kucari, sampai kucungkil juga matahari
Tetap, mataair yang bening bermarun sebelum menyentuh sungai

“Gambarlah sungai yang tak bebatu”

Segala leluasa berpenuh pasrah
Ya, fakir menumpuk bebatu dari mula hulu mataair
Dimana kuletakan rindu, susur cinta sampai mataair bening tercampur bermarun

Laut paling maut bebatu
Satu Arah: tanah

Ibnu Zidan |WordPress

PEREMPUAN PELABUHAN

Standard

I/pencarian

Bumi ladang dugaduga
Penerima slalu terima praduga

NR, Cidahu 250513| Salam lestari

II/jalinan

Pada talitali
Benang putus: pengalaman benang merah

: alit dalam Bahasa Sunda kecil
NR, Cidahu 250513| Salam lestari

III/akad

Bukana, manimani
Nikah ladang sumpah ke sorgawi

NR, Cidahu 250513

Ibnu Zidan |WordPress

Baju Piyama

Standard

Istriku, buatkan baju piyama untukku
dari benang-benang bening hening khusumu
jika selesai gantung saja di almari
di almari sudah sedia wangi sukaku
kubeli tadi saat senja kita pergi

“Dimana benang-benangnya?, bukan tadi kita hanya hibur diri saja.!”

Dari tiap bulir bening, dihening adalah benangnya
setelah bertaut, untai benang akan sampai pada khusu.
begitu kisahnya esok!!

Bila malam tidak berparas senja dulu
pandang saja piyamaku, di almari sudah sedia wangi sukaku, ada sukakukan?
dan baju piamanya dirubung wangi di almari

Ibnu Zidan |WordPress

LAMA

Standard

Ya, kita lama di sini
sudah tiada basabasi datang
menunggu, sampai sadar Kita tua

dengar cerita kau sakit parah
Ya, Asma ketika terakhir kau berenang di kolam
Barangkali itulah penyebabnya suaramu putus-putus

Aku tidak menerka asma penyebabnya
Cuma lama kau tidak tersiar kabar. Itu saja!
Aduh, jangan kau sangka aku dong
Ini tentang lama

Seberapa lagi lama itu?
Nah, itu aku tanya
jangan jawab kalau kau asma..

Posted with WordPress

AKU: bertualang

Standard

Huruf-huruf itu hidup
membelah muka membuka mata
jadi teman bagi yang cinta
terus di hirup
haus tanpa degup

aku, kami akrab
dari huruf yang berkata-kata
mengajak mata lembab
menjadi khusu karib mengenal-Nya

Entah, ketika terpisah
raga sebelah, tanpa ruh
mata penuh duka
hati penuh hina

O, hidup
jadikan kami penghirup huruf maha hidup
seperti Lafzdul Jalalah mengalir dalam darah.

Posted with WordPress