Mu(asal)

Standard

Mataair akan terus tetap mengalir
Mengucuri jiwajiwa yang lahir
Susur rindu yang basah membujur
Menyala cinta pada mata yang terbakar

“Huluhulu mana yang akan kau ikut!!”

Tiap butir mataair beri cukup diwajah
Ya, aku berkeriapan mencari letak
Huluhulu kucari, sampai kucungkil juga matahari
Tetap, mataair yang bening bermarun sebelum menyentuh sungai

“Gambarlah sungai yang tak bebatu”

Segala leluasa berpenuh pasrah
Ya, fakir menumpuk bebatu dari mula hulu mataair
Dimana kuletakan rindu, susur cinta sampai mataair bening tercampur bermarun

Laut paling maut bebatu
Satu Arah: tanah

Ibnu Zidan |WordPress

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s