LAMA

Standard

Ya, kita lama di sini
sudah tiada basabasi datang
menunggu, sampai sadar Kita tua

dengar cerita kau sakit parah
Ya, Asma ketika terakhir kau berenang di kolam
Barangkali itulah penyebabnya suaramu putus-putus

Aku tidak menerka asma penyebabnya
Cuma lama kau tidak tersiar kabar. Itu saja!
Aduh, jangan kau sangka aku dong
Ini tentang lama

Seberapa lagi lama itu?
Nah, itu aku tanya
jangan jawab kalau kau asma..

Posted with WordPress

Advertisements

AKU: bertualang

Standard

Huruf-huruf itu hidup
membelah muka membuka mata
jadi teman bagi yang cinta
terus di hirup
haus tanpa degup

aku, kami akrab
dari huruf yang berkata-kata
mengajak mata lembab
menjadi khusu karib mengenal-Nya

Entah, ketika terpisah
raga sebelah, tanpa ruh
mata penuh duka
hati penuh hina

O, hidup
jadikan kami penghirup huruf maha hidup
seperti Lafzdul Jalalah mengalir dalam darah.

Posted with WordPress

Istri Seorang Pengembara

Standard

Setelah seharian mendongak ke langit putih berangin dingin
Ia tuntaskan matanya dengan mengedip nakal,
pamit pada ketiganya: matahari, langit dan angin

“Terimakasih sudah temani waktuku hari ini” ucapnya tegas, lalu, mengayun langkah dengan irama mengambang

“Kenapa kau tidak pamit padaku?”
Tanya tanah heran.

“Aku masih singgah di mukamu, mana mungkin aku pamit sekarang” terangnya pelan.

“Hai, aku temukan secarik kertas milikmu yang tertinggal di pertigaan jalan ke maren.”
Sebongkah batu menghadang

“Surat itu untukmu, anggap saja cinderamata dariku, Kapan-kapan saja aku baca jika rindu!”

Dindingnya adalah tembok kamar yang terpancar terkucil diseberang perbukitan. Sesekali cuma menengok jendela. itu pun setelah selesai Ia cengkram semua duka.

Rupanya tetap begitu anggun, menjelaskan sosok yang ingin disebut perempuan.
Ahirnya Ia sampai pulang ke rumah.
Tubuhnya kembali terbujur bergetar, lemparan lembaran duka kembalikan Ia untuk keranjang

“Ah, dukaduka kembali menyerang, kenapa kau datang, suamiku hilang!!”
“Aku hanyalah kamar, wajar jika aku tanya kapan kau kan terlentang. Rebahkan segala letih, menunggu kau sampai bangun tertatih, berdiri lagi Itu saja!!”

Posted with Ibnuzidan | WordPress

PERMADANI UNTUK BULAN SUCI (seimprit)

Standard

HARU(S)
: di firdaus

Senja menunggu, siul-siul
Ayo, datangi biar merangkak!!

Akyari, 06 juli

(C)UKUR

Babat belantara rambut, jenggot
Berapa syukur, pak?

Akyari, 06 juli

(K)RING
: hadiah 99 Asma

Halo, dengan siapa?
“Nama, AKU pemilik jiwamu!”

Posted with WordPress

Akulah Pencuri Itu

Standard

Akulah pencuri hatimu
aku sekarang sudah tidak bisa lari
silahkan kauapakan adanya. Ini aku!
Aku terima sepenuh ada-Nya. Mari!

“Tiba-tiba, suarasuara menusuk busuk-busuk”

Memang kalau lari tidak menikahimu bisa kembalikan hatimu kesemula gitu?
Menikahimu bukan karna tak jodoh, bodoh!!
Justru bodoh jika aku tidak menikahimu
Kan aku bilang:
“hanya hatimulah yang kucari, lelah kaki: sana kemari”

Memang kalau lari tidak bisa sembunyi gitu?
Kan aku bilang:
“hatimu sudah mendarah didih ditubuhku,
di tubuhku sudah sampai: tumbuh lucu-lucu.”

Memang kalau lari tidak menikahimu tidak bisa kembalikan hatimu gitu?
Kan aku bilang:
“Akan kukembalikan kemana semula hatimu, sedangkan ayahmu tahu ke-malu-an kami sama: untuk lestari.”

Hati itu ibarat rambut, akan lembut terurai untuk pemiliknya yang bisa menjaga.
bagi yang tidak, akan awutawutan!!!

Sudahlah, aku yang mencuri hatimu. Itu saja!!
Dan semua bukan tak jodoh. Bodoh To!!

Posted with WordPress

Sosok Lestari

Standard

bertemu rupa
di gulir bulir hujan
tengok; pelangi

tergolek sabar
hujan dipasung awan
ranah memerah

menaruh do’a
biar tiba bermuka
mati tak sesal

Posted with WordPress

RUANG KOSONG KITA

Standard

Tersungkur dimeja tulis
Menemani tubuh yang terbelah
Engkau pengembala dan Aku sapimu
Memberi gema jerit-jerit yang lancip
Tercukur cemas, menghulu pilu kedip-kedip

Pernah:
Aku, Kau, semedikan nafsu
Pulas bersama gigil dingin malam
Selinapkan diri pada bulan, dipicing kicau dikepala
Senyap, mencari sayupNya: lancip

Bertahun-tahun kami disini
Sampai lidah kelu, mata berembun
Musim selalu berlari dan esoknya ada janji
Hingga akhir, matahari itu membakarkan marahnya

Tuh, disana!
kami dibelah kami teripisah
Bermusim-musim besama gigil dingin yang lancip
Berharap ada ibu yang menjahit, dan kami kembali satu
Mematut paras sampai selaras

Celaka!!
matahari kembali membakar
Sebelum kami naik keranjang tidur
Sebelum kami pamit ucap trimakasih
Kami terbelah, teripisah.

Hei, Kembalilah!
Bakarlagi jembatan kami
Berkali-kali sampai kami pulang
Sampai kami lega, paras-selaras-lestari!!!

Posted with WordPress