Kepala(nda)bleg

Image

Waduh, celaka!!
lagilagi keluh hari ini sama
dari kepala berat, sampai hujan yang lebat
entah siapa yang menaruh batu di kepalaku
sampai harus menerka menimang berapa berat kau buat!!

Kau
Ya, kau yang purapura beri kepalaku obat!
subsidi yang nantinya kepala tidak berat,
pew, pew, pew
dengarlah, alam dan suarasuara yang lapar
dari gerutu para ibu yang kehilangan airsusu
sampai siekor sapi yang kalikali bertanya
siapa!!!

“siapa yang sudah memotongku, siapa yang sudah menimbangnya, diakah itu yang dididik miring, pake kopyah miring?”

Oh, aku keliru menjawab ketika di tanya,
“Berapa airhujan yang sudah sampai kerumahmu.
Air yang menggenang di halaman rumahmu?”
Ternyata seharunya kujawab, di rumahmu sudah sedia tadah hujan

Ibnu Zidan |WordPress

Advertisements

Pangandaran

Image

Lelap seisi

Sela malam, geming
Larut bersama hening
Uruti ruang yang kering
Menuding, menggelar banding

Sela malam, menyelip bunyi
Mengaung buali hati
Ikutlah, bertengkar lagi
Diri di dua sisi. Malam

Aku pergi,
setelah resah dipanggang hari kenangan
Aku lirik kau seperti detik yang meloncat
dari hitungan jam sebagai tanda, kita beda

Aku tinggalkan kau
Tanggalkan cerita, memahatkan kau pada aksara
Sekarang aku punya cita-cita
Melihat anaku tumbuh sampai usai usia

Kutulis cintaku dalam puisi ini
Agar kelak ia tetap hidup sebagai
kenangan yang tak akan hilang
Biar sang rapuh usia, bisikan. Tenang!

Puisi adalah anak-anak kita
Mereka tak hanya akan menghibur dalam kata-kata,
ia juga akan menahan kita dari kebencian hati dan
kemarahan pikiran

Posted with WordPress